SIAPA PEDULI
tubuh tandus terkapar
menyiangi bahu-bahu jalan
hingga tak bertenaga
terpuruk di pojok terantuk
ringkih, tatap lalu-lalang sejenis
tanpa mengerti
mencemooh
wanita tuna suami
anak tuna bapak
berharap dikasihani
siapa yang bersalah?
kematian
mungkin kematian
dunia tanpa kelaparan
sisi tarik-ulur opini
tak terejawantahkan
katanya dipelihara negara
Undang-undang
delapan ribu perhari, rokok
kami berpenghasilan
sawah, ladang berhamparan
gudang itik, ayam berkokok
bukan harta
kepedulian
kapan?
meratapi nasib
mencaci tuhan
menangisi musibah
mengutuki ketidakadilan
berkaca pada sumpah serapah
dan aku bersajak
seperti mereka beropini
miskin hati
enggan untuk berbuat
siapa menangkisi?
Mei '06
No comments:
Post a Comment