2.8.06

THUR SINA-I


isyarat apa yang bergejolak di puncak-puncak bebukitan dan gunung-gunung meninggi menafsirkan sebuah perjalanan sejarah tak putus oleh musim-musim yang terus melaluinya. di penghujung dingin mencambuki tak henti hingga batang-batang rokok tak lagi bisa menyala seperti di gedung-gedung apartemen. dan hati terus hening ada kedamaian menyelusup karena kesamaan pendakian kesamaan kelelahan. wahai para pemegang kekuasaan tertinggi, kunjungi puncak ini mari kita nikmati kopi hangat ketika matahari menyingsing. masih ada kesamaan antara kita, sama-sama ingin menyaksikan keindahan, dan peperangan itu samasekali menjijikan. di antara bebatuan menonjol, Musa pernah meminang wahyu untuk sebuah rasa paripurna, pecinta sesama, pemerhati kebersamaan. tapi engkau masih tetap menjadi gunung menangis sepanjang kehidupan manusia. dulu darah, sekarang sampah dari sisa-sisa para pecinta kelestarian alam dan kotoran hewan-hewan yang mereka tunggangi. setelah matahari meninggi, setelah sepi, setelah keindahan itu mereka nikmati.


Juli '06

No comments: