KEMBALI
kau bertahta atas keinginan tertahan, atas penantian tersendat. sampai di titik nadir kembali pada pelukan empat musim, menyisakan perjuangan patah di kedua ketiak tak mengepak sepuluh jari tak lagi lentik. wahai jiwa selalu menggelora, dunia kau inginkan terlalu berbahaya karena kau belum pernah mengerti bentuk duri pada daun talas, jemari pribadi-pribadi buas. di sini lebih terkungkung beraroma kebajikan, jalan-jalan tikus dan keberanian utuh terpaut rasa terpaut awanan laknat berarak. benar, tidak mungkin akan terkelupas luka-luka membusuk bernanah bau anyir itu, tapi bukan lautan penuh oleh pasir-pasir garam dan ombak-ombak kejam. kau akan menangis, menangisi sesal tak ada henti dan bergelombang naik-turun menyesali kelahiran menyesali kehidupan dan mempermasalahkan kisah-kisah usang, loncatan-loncatan perasaan. tidak buntu-tidak buntu hanya butuh pintu keluar dari keterpautan itu, hanya butuh pintu dari kekangan-kekangan itu. aku bertandang seperti engkau menepis lamunan, mengejar bayangan-bayangan sendiri. terselubung tarik-ulur harkat-martabat layaknya kisah pedagang-pedagang berharap pelanggan datang menerus bergantian hingga beribu tekanan kau jual pada jerit burung-burung jerit pesakitan-pesakitan. mereka tidak pernah menyesali jalannya kereta kebijakan, namum acap kali wejangan tak terejawantahkan dinilai sebagai umpan kemunafikan tak pernah dikorbankan oleh peminat laga.
Okt '06
No comments:
Post a Comment