YANDA
angin yang membesarkan engkau di jalan membentang hingga falsafah-falsafah keseimbangan hidup itu tercetak tajam pada paras lembut berwibawa. Tuhan sengaja mempertemukan kita, hingga kau mengenalku sebagai badai kehilangan ombak. begitupun aku mengenalmu sebagai anak angin tak menggebu; karena memang aku bukan terlahir dari keringat pertama. tapi aku haus akan wejangan-wejangan debu-debu yang kau punguti antara kerikil-kerikil perjalanan. Lihatlah! betapa aku memar mebraki karang menciumi perahu nelayan hanya untuk mengetahui sebuah eksistensi keberagaman.
Sept '06
No comments:
Post a Comment