ARSIP EKSPLOITASI
ruasruas 'rel' laju darah bergemuruh di gunung kebisuan tersulap ramai iringan tawatawa kebiadaban setiap gundukan tanahnya adalah berkas lengking rintihan jarakjarak lorong penjarahan urat berkilauan tertelusuri keserakahan. sekarang lubanglubang terhubung takan pernah ada yang mau menutupinya dengan lumut sekalipun, dan hanya menunggu kakikakinya runtuh sebanyak ukiran tulisan dalam diktatdiktat sejarah 'persekolahan'. kami masih belum bisa tersenyum, lokomotif durjana dengan gerbonggerbong sekeras batokbatokkepala 'pemeras' masih terdengar menusuk setiap mili keringat yang terpaksa 'terbazirkan', dan itu didepan rumah kami diatas relrel tubuh manusia. sekarang sudah berkarat, sekarang sudah menjadi rongsokan.
cikotok, 2005.
No comments:
Post a Comment