Remang fairuz
aula tampak senyap dengan angin sepoi
kulihat sekelompok orang berbincang
adem ayem sejuk indah dipandang
walaupun damar terlihat sedikit suram
dibalik bilik dapur asap tipis melangit
perempuan renta duduk diatas ambenamben
menanti buah hati melangkan layanglayang
lalu kembali dengan binar cerita ceria
sedangkan beranda tampak lenggang
hanya beberapa tanaman dalam vas kaleng
seakan berlomba mengapai dinding rapuh
terkadang dedaunya gugur diterpa sepoi
ruangan tengah lumayan padat
kudengar ayatayat suci terlontar bersautan
beberapa bocah tanpa ijazah terus menggali
tak harus semuanya formal saut mereka
sayup lemah azan dikumandangkan
mega merah menutup hari menyambut pekat
“maapkan ibu yah nak, bukan ga sayang;
untuk makan saja segini adanya
apalagi kalo kamu sekolah”
ya, kudengar suara itu dengan jelas
diatas meja lapuk fairuz menitikan air pipi
jiwanya menjerit, hatinya merintih
segetir itukah lakonan diri ?
Sedang malam terus berlalu dengan sombong
10.0.0.3
August 15 2003
Rindumu gaduhdalam
berkutat dalam bising padu karam
setiap halaman adalah makna
setiap nafas adalah usia
bising karam memadu usia dalam makna
berkutat dalam senja adalah asa
setiap menit adalah rindu
setiap jengkal adalah padu
menanti asa senja dalam padu rindu
catatanmu dalam petuah adalah prasati
langkahmu penjarakan kelam adalah tekad
dan apakah rindumu, asamu, anganmu,
akan sepenuhnya dalam dawai paduku
B@YONET, 15 agt 03
Lehamu sesalmu
memenggal waktu pada batu
bersama malammalam hampa tanpa makna
lalu siangmu bak kilatan guyon
membiarkan detak pamit tanpa salam
sembilan purnama titipkan raga
memenjarakan telaga pada kelabu
melepaskan bayang pada angan
memenjarakan naluri dalam pekat
ketika getir itu manghampiri
suryamu lenyap ditelan awan
seiring dempul terus menebal
mengoyak asa melebur usia
B@YONET, Agt 15,03
No comments:
Post a Comment